Saturday, 23 July 2011

SABAR DAN KELEBIHANNYA....


Sesungguhnya iman itu terdiri atas dua bagian: sebagian sabar dan sebagian syukur. Keduanya merupakan dua sifat dari sifat-sifat Allah Ta’ala dan dua nama dari al-asmaa-ul-husnaa, dimana Dia menamakan Diri-Nya dengan nama ash-Shabuur danasy-Syakuur....
Keutamaan Sabar
Allah Ta’ala sesungguhnya telah menyifatkan orang-orang yang sabar, dengan beberapa sifat. Ia menambahkan lebih banyak derajat dan kebajikan kepada sabar. Ia menjadikan derajat dan kebajikan itu sebagai hasil (buah)
dari sabar. Maka Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:
“Dan Kami jadikan di antara mereka itu beberapa pemimpin yang akan memberikan pimpinan dengan perintah Kami, yaitu ketika mereka berhati teguh (sabar)”. (QS. As-Sajadah : 24).
“Dan telah sempurnalah perkataan yang baik dari Tuhan engkau untuk Bani Israil, disebabkan keteguhan hati (kesabaran) mereka”. (QS Al A’raf : 137).
“Kepada orang-orang itu diberikan pembalasan (pokok) dua kali lipat, disebabkan kesabaran mereka”. (QS. Al Qashash : 54)
“Sesungguhnya orang-orang yang sabar itu, akan disempurnakan pahalanya dengan tiada terhitung”. (QS Az-Zumar : 10).

Maka tidak ada dari pendekatan diri manusia kepada Allah (ibadah), melainkan pahalanya itu ditentukan dengan kadar dan dapat dihitung, selain sabar. Dan sesungguhnya adanya puasa itu sebagian dari sabar dan puasa itu separuh sabar, maka Allah Ta’ala mengaitkan puasa itu bagi orang-orang yang bersabar, bahwa Ia bersama mereka.
“Hendaklah kamu bersabar, sesungguhnya Allah itu bersama orang-orang yang sabar”. (QS. Al-Anfal : 46).
“Ya! Kalau kamu sabar dan memelihara diri, sedang mereka datang kepadamu (menyerang) dengan cepatnya, Tuhan akan membantu kamu dengan lima ribu malaikat yang akan membinasakan”. (QS. Ali ‘Imran : 125).
Dan penelitian semua ayat-ayat tentang kedudukan sabar itu akan panjang bila diteruskan.
Adapun hadits-hadits yang menyangkut dengan sabar, maka di antara lain, Nabi s.a.w. bersabda : “Sabar itu separuh iman”, sebagaimana nanti akan diterangkan caranya sabar itu separuh iman. Adapun hadits-hadits yang lain di antaranya:
“Dari yang sekurang-kurangnya diberikan kepada kamu, ialah: keyakinan dan kesungguhan sabar. Siapa yang diberikan keberuntungan dari keyakinan dan kesungguhan sabar itu, niscaya ia tidak peduli dengan yang luput dari padanya, dari shalat malam dan puasa siang.
Dan engkau bersabar di atas apa yang menimpa atas diri engkau, adalah lebih aku sukai, daripada disempurnakan oleh setiap orang daripada kamu, kepadaku, dengan seperti amalan semua kamu. Akan tetapi aku takut, bahwa dibukakan kepadamu dunia sesudahku. Lalu sebagian kamu menetang sebagian yang lain. Dan akan ditantang kamu oleh penduduk langit (para malaikat) ketika itu. Maka siapa yang sabar dan memperhitungkan diri, niscaya memperoleh kesempurnaan pahalanya”.
Kemudian Nabi s.a.w. membaca firman Allah Ta’ala: “Apa yang di sisi kamu itu akan hilang dan apa yang di sisi Allah itu yang kekal. Dan akan Kami berikan kepada orang-oang yang sabar itu pembalasan, menurut yang telah mereka kerjakan dengan sebaik-baiknya” (An-Nahl:96).
Diriwayatkan Jabir, bahwa Nabi s.a.w ditanyakan tentang iman, maka Beliau menjawab: “Sabar dan suka memaafkan”.

                                              
Dikatakan bahwa Allah Ta’ala menurunkan wahyu kepada nabi Daud a.s.:
“Berakhlaklah dengan akhlak-Ku! Sesungguhnya sebagian dari akhlak-Ku, ialah, bahwa Aku Maha Sabar.”
Pada hadits yang diriwayatkan ‘Atha’ dari Ibnu Abbas, bahwa ketika Rasulullah s.a.w. masuk ke tempat orang-orang Anshar, lalu beliau bertanya:
“Apakah kamu ini semua orang beriman?”.
Semua mereka diam. Maka menjawab Umar r.a.: “Ya, wahai Rasulullah!”.
Nabi s.a.w. lalu bertanya: “Apakah tandanya keimanan kamu itu?”
Mereka menjawab: “Kami bersyukur atas kelapangan. Kami bersabar atas percobaan. Dan kami rela dengan ketetapan Tuhan (qadha Allah Ta’ala)”.
Lalu Nabi s.a.w. menjawab: “Demi Tuhan pemilik Ka’bah! Benar kamu itu orang beriman!”.
Nabi s.a.w. bersabda:
“Pada kesabaran atas yang tidak engkau sukai itu banyak kebajikan”.
Isa Al-Masih a.s. berkata:
“Engkau sesungguhnya tiada akan memperoleh apa yang engkau sukai, selain dengan kesabaranmu atas apa yang tiada engkau sukai”.
Adapun atsar, maka di antaranya ialah terdapat pada surat khalifah Umar bin al-Khatab r.a. kepada Abu Musa Al-Asy’ari r.a., yang bunyinya di antara lain:
“Haruslah engkau bersabar! Dan ketahuilah, bahwa sabar itu dua. Yang satu lebih utama dari yang lain: sabar pada waktu musibah itu baik. Dan yang lebih baik daripadanya lagi, ialah sabar (menahan diri) dari yang diharamkan Allah Ta’ala. Dan ketahuilah, bahwa sabar itu yang memiliki iman. Yang demikian itu, adalah bahwa takwa itu kebajikan yang utama. Dan takwa itu dengan sabar”.
Ali r.a. berkata pula:
“Sabar itu dari iman, adalah seperti kedudukan kepala dari tubuh. Tidak ada tubuh bagi orang yang tidak mempunyai kepala. Dan tidak ada iman, bagi orang yang tiada mempunyai kesabaran”.
Adalah Habib bin Abi Habib Al Bashari, apabila membaca ayat: “Sesungguhnya dia (Ayub) kami dapati, seorang yang sabar. Seorang hamba yang amat baik. Sesungguhnya dia tetap kembali (kepada Tuhan)” (QS. Shad : 44), lalu beliau menangis dan berkata: “Alangkah menakjubkan! Ia yang memberi dan Ia yang memujinya.”
Penjelasan Hakikat Sabar                                                                          
Ketahuilah kiranya, bahwa sabar itu suatu maqam (tingkat) dari tingkat-tingkat agama. Dan suatu kedudukan dari kedudukan orang yang berjalan menuju kepada Allah (saalikiin). Dan semua maqam agama itu hanya dapat tersusun baik dari tiga hal: ma’rifah, ahwal dan amal. Maka ma’rifah itu adalah pokok, dialah yang mewariskan ahwal; dan ahwal itu yang membuahkan amal.
Ma’rifah itu adalah seperti pohon kayu, ahwal adalah seperti ranting, dan amal seperti buah. Dan ini terdapat pada semua kedudukan para saalikiin. Seperti demikian pula sabar. Tiada akan sempurna sabar itu selain dengan ma’rifah yang mendahuluinya dan dengan ahwal yang tegak berdiri.
Adapun insan itu, maka sesungguhnya ia diciptakan pada permulaan masa kecilnya tanpa keinginan selain keinginan makan. Kemudian lahirlah keinginan bermain dan berhias, kemudian nafsu keinginan kawin. Dan tak ada sekali-kali pada insan —pada masa kecil tersebut— kekuatan sabar. Pada anak kecil itu yang ada hanyalah tentara hawa nafsu, seperti yang ada pada hewan.
Akan tetapi, Allah Ta’ala dengan kurnia-Nya dan keluasan kepemurahan-Nya, memuliakan anak Adam dan meninggikan derajat mereka dari derajat hewan-hewan. Maka Allah Ta’ala mewakilkan kepada manusia itu ketika sempurna dirinya dengan mendekati kedewasaan, dua malaikat. Yang satu memberinya petunjuk dan yang satu lagi menguatkannya. Maka berbedalah manusia itu dengan pertolongan dua malaikat tadi dari hewan-hewan.
Maka jadilah insan itu dengan sinar petunjuk, mengetahui bahwa mengikuti nafsu syahwat itu tidak disukai pada akibatnya. Akan tetapi, petunjuk itu tidaklah memadai, selama tidak ada baginya kemampuan untuk meninggalkan yang mendatangkan melarat. Lalu ia memerlukan kepada kemampuan dan kekuatan yang dapat menolakkannya kepada menyembelih nafsu syahwatnya itu. Lalu ia melawan nafsu syahwat tersebut dengan kekuatan itu. Sehingga diputuskannya permusuhan nafsu syahwat tadi darinya. Maka Allah Ta’ala mewakilkan seorang malaikat lain padanya yang membetulkannya, meneguhkannya dan menguatkannya dengan tentara yang tiada engkau dapat melihatnya. IA memerintahkan tentara ini, untuk memerangi tentara nafsu syahwat. Maka sekali tentara ini yang lemah dan sekali ia yang kuat.
Hendaklah dipahami, bahwa peperangan itu, terjadi antara penggerak agama dan penggerak hawa nafsu. Dan peperangan antara yang dua tadi, berlaku terus menerus. Dan medan peperangan ini ialah qalb hamba.
Sumber bantuan kepada penggerak agama itu datangnya dari para malaikat, yang menolong barisan (tentara) Allah Ta’ala. Dan sumber bantuan penggerak nafsu syahwat itu, datangnya dari syaitan-syaitan yang membantu musuh-musuh Allah Ta’ala.
Maka sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama menghadapi penggerak nafsu syahwat. Kalau penggerak agama itu tetap, sehingga dapat memaksakan penggerak nafsu syahwat dan terus-menerus menantangnya, maka penggerak agama itu telah menolong tentara Allah. Dan berhubung dengan orang-orang yang sabar. Dan kalau ia tinggalkan dan lemah, sehingga ia dikalahkan oleh nafsu syahwat dan ia tidak sabar pada menolaknya, niscaya ia berhubungan dengan mengikuti syaitan-syaitan.
Jadi, meninggalkan perbuatan-perbuatan yang penuh dengan nafsu syahwat itu adalah amal perbuatan yang dihasilkan oleh suatu ahwal, yang dinamakan sabar, yaitu tetapnya penggerak agama yang berhadapan dengan penggerak nafsu syahwat. Tetapnya penggerak agama itu adalah suatu hal yang dihasilkan oleh iman, dengan memusuhi nafsu syahwat dan melawannya, karena sebab-sebab kebahagiaan di dunia dan di akhirat.
Sesungguhnya semua yang tersebut itu, adalah isyarat yang mengisyaratkan kepada hal-hal yang lebih tinggi dari ilmu mu’amalah. Maka kami terangkan, bahwa telah jelas sabar itu adalah ibarat dari tetapnya penggerak agama pada melawan penggerak hawa nafsu. Dan perlawanan ini adalah termasuk ciri khas anak-anak Adam, karena diwakilkan kepada mereka, malaikat-malaikat yang mulia yang menuliskan amal perbuatan mereka.
Sabar itu Setengah Iman
Ketahuilah kiranya, bahwa iman itu pada suatu kali, disandarkan secara mutlak kepada tasdiq dengan pokok-pokok agama, dan pada suatu kali lainnya dengan amal shalih yang datang dari tasdiq itu, dan pada suatu kali lainnya lagi keduanya sekaligus: iman dan amal shalih.
Adapun “sabar itu setengah iman” berdasarkan dua pandangan dan atas kehendak dua pemakaian kata. Pandangan pertama, iman itu dikatakan secara mutlak kepada semua tasdiq dan amalan. Lalu iman itu mempunyai dua sendi (rukun). Yang satu yakin dan yang lain sabar.
Yang dimaksudkan dengan yakin ialah ma’rifah-ma’rifah yang diyakini kepada pokok-pokok agama. Dan yang dimaksudkan dengan sabar ialah amal (berbuat) menurut yang dikehendaki oleh keyakinan. Keyakinan tersebut, misalnya, mengajarkan bahwa maksiat itu mendatangkan melarat dan tha’at itu mendatangkan manfaat. Dan tidak mungkin meninggalkan perbuatan maksiat dan rajin kepada taat, selain dengan sabar. Maka adalah sabar itu separuh iman dengan pandangan ini. Dan karena itulah, rasulullah s.a.w. mengumpulkan di antara keduanya, dengan sabdanya:
“Di antara yang paling sedikit yang diberikan kepada kamu ialah yakin dan keras kesabaran”.
Pandangan kedua, iman itu dikatakan secara mutlak kepada ahwal yang membuahkan amal, dan bukan ma’rifah-ma’rifah. Dan ketika itu, terbagilah semua yang ditemui oleh hamba dalam hidupnya, kepada yang bermanfaat kepadanya di dunia dan di akhirat atau yang mendatangkan melarat kepadanya di dunia dan akhirat. Dan hamba itu dengan dikaitkan kepada yang mendatangkan melarat kepadanya mempunyai hal (sifat) syukur. Maka syukur itu dengan pandangan ini adalah salah satu dari dua bagian iman, sebagaimana yakin adalah salah satu dari dua bagian itu, menurut pandangan pertama di atas.
Dengan pandangan tersebut, Ibnu Mas’ud r.a. berkata:
“Iman itu dua paruh (nishfu), separuh sabar dan separuh syukur”.
Hal-Hal tentang Sabar
Ketahuilah kiranya bahwa sabar itu dua bagian: Pertama, bagian badaniah, seperti menanggung kesukaran dengan badan dan tetap bertahan atas yang demikian. Dan ini adakalanya dengan perbuatan, seperti mengerjakan perbuatan-perbuatan yang sukar. Adakalanya dari perbuatan-perbuatan ibadan dan bukan ibadah. Adakalanya dengan penanggungan seperti sabar dari pukulan keras, sakit parah dan luka-luka besar.
Kemudian bagian kedua, kalau adalah sabar dari nafsu syahwat perut dan kemaluan, maka dinamakan ‘iffah (pemeliharaan diri). Kalau sabar itu pada musibah, maka disingkatkan saja atas nama sabar, lawannya adalah gelisah dan keluh kesah. Kalau sabar itu pada membawakan kekayaan dinamakan mengekang diri, lawannya dinamakan sombong dengan kesenangan (al-bathar). Kalau sabar pada peperangan dinamakan berani, lawannya pengecut. Kalau sabar itu dalam menahan amarah dinamakan lemah lembut, lawannya ialah at-tadzammur (pengutukan diri kepada yang sudah hilang). Kalau sabar itu pada suatu pergantian masa yang membosankan maka dinamakan lapang dada, lawannya mangkal hati dan sempit dada. Kalau sabar itu pada menahan diri dari kehidupan dunia maka dinamakan zuhud, lawannya lahap.
Maka yang terbanyak dari akhlak iman itu masuk dalam sabar. Karena itulah, pada suatu kali Nabi s.a.w. ditanyakan tentang iman, lalu beliau menjawab: “Ialah sabar”. Karena sabar itu yang terbanyak dari amal-perbuatan iman dan yang termulia dari amal perbuatan itu. Allah Ta’ala mengumpulkan bagian-bagian itu dan semuanya dinamakan sabar, dengan firman-Nya:
“Mereka yang sabar dalam musibah, kemiskinan dan ketika peperangan. Merekalah orang-orang yang benar dan merekalah orang-orang yang bertakwa - memelihara dirinya dari kejahatan”. (QS Al Baqarah : 177).
Jadi, inilah bagian-bagian sabar, dengan perbedaan hubungan-hubungannya. Dan siapa yang mengambil arti (maksud) dari nama, niscaya ia menyangka bahwa hal keadaan itu berbeda pada zatnya dan hakikatnya, dari segi ia melihat nama-nama itu berbeda. Maka arti itu pokok dan kata-kata itu adalah pengikut. Siapa yang mencari arti dari pengikut, niscaya tidak boleh tidak, ia akan tergelincir. Dan kepada dua golongan itulah, diisyaratkan dengan firman Allah Ta’ala: “Adakah orang yang berjalan menelungkup di atas mukanya lebih mendapat petunjuk ataukah orang yang berjalan dengan lurus di atas jalan yang benar? (QS. Al Mulk : 22).
Ketahuilah kiranya, bahwa penggerak agama, dikaitkan kepada penggerak hawa nafsu itu mempunyai tiga hal/keadaan:
Bahwa ia memaksakan penggerak hawa nafsu. Lalu penggerak hawa nafsu itu tidak mempunyai lagi kekuatan untuk melawan. Dan sampai kepada yang demikian itu, dengan berkekalan sabar. Yang sampai kepada tingkat ini adalah sedikit. Yakni, ash-shiddiqun, dan al-muqarrabun. Mereka itulah orang-orang yang akan dipanggil: “Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan ridla, yang diridlai.”
Bahwa menanglah pengajak-pengajak hawa nafsu secara mutlak, jatuhlah perlawanan penggerak agama. Lalu ia menyerahkan dirinya kepada tentara setan dan ia tidak berjuang (bermujahadah) karena berputus-asa. Merekalah orang-orang yang lalai, dan ini adalah golongan yang terbanyak.
Kepada merekalah diisyaratkan dengan firman Allah Ta’ala:
“Dan kalau Kami kehendaki, niscaya Kami berikan petunjuk kepada setiap diri. Tetapi perkataan dari-Ku, sebenarnya akan terjadi, sesungguhnya Aku akan memenuhkan neraka Jahanam dengan jin dan manusia semuanya” (QS. As- Sajadah : 13).
Merekalah orang-orang yang membeli kehidupan duniawi dengan akhirat sehingga rugilah perniagaan mereka, dan dikatakan kepada orang yang bermaksud menunjuki jalan kepada mereka: “Berpalinglah engkau dari orang yang tiada memperdulikan pengajaran Kami dan hanya menginginkan kehidupan duniawi semata! Pengetahuan mereka hanya sehingga itu”. (QS. An-Najm : 29-30).
Keadaan ini, tandanya ialah: putus asa, hilang harapan dan tertipu dengan angan-angan. Itulah yang paling bodoh, sebagaimana Nabi s.a.w. bersabda:
“Orang yang pintar itu meng-agamakan dirinya dan berbuat amal untuk sesudah mati. Dan orang yang bodoh ialah orang yang mengikutkan dirinya kepada hawa nafsunya dan ia berangan-angan atas Allah”.
Orang yang berkeadaan begini, apabila diberi pengajaran, niscaya menjawab: “Aku ingin bertobat. Akan tetapi, sukar tobat itu atas diriku. Lalu aku tidak mengharap padanya”, atau ia tidak ingin bertobat akan tetapi membalas: “Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun, Maha Pengasih, lagi Maha Pemurah. Maka Dia tidak memerlukan kepada tobatku”.
Bahwa peperangan itu adalah menjadi hal yang biasa di antara dua tentara. Sekali ia memperoleh kemenangan atas peperangan itu, dan sebaliknya. Inilah yang termasuk golongan al-mujahiduun. Orang-orang yang berkeadaan dengan keadaan ini ialah mereka yang mencampuradukkan amal perbuatan yang baik dan yang lain yang jahat, seperti firman Allah Ta’ala: “Mereka telah mencampur-adukkan pekerjaan yang baik dengan yang buruk”. Kiranya Allah Ta’ala menerima taubat mereka!
Penutup
Berkata sebagian orang ‘arifin: “ahlush-shabri itu adalah atas tiga maqam.
Pertama, orang-orang yang meninggalkan nafsu syahwat, dan ini adalah derajat orang-orang yang taubat (mutawwabiin).
Kedua, orang-orang yang ridla dengan yang ditakdirkan Tuhan, dan ini adalah derajat orang-orang zahid.
Ketiga, orang-orang yang suka kepada apa yang diperbuat Tuhannya, dan ini adalah derajat orang-orang shiddiq (ash-shiddiqin).“
AL FAQIR ILALLAH.

Tuesday, 19 July 2011

MAU NASH TAPINYA TIDAK*BERNAS*

                                                                         

                                                             
                                                                


Keinginan umat Islam kini untuk kembali kepada Islam di setiap tempat merupakan suatu khabar gembira buat kita. Ianya suatu yang jelas di setiap tempat walaupun kebanyakan daripda mereka mendapat tentangan yang hebat.

           Kebangkitan Islam dapat dilihat dari pelbagai sudut terutamanya, dalam sudut penggurusan negara Islam). harta, penubuhan syarikat-syarikat Islam, pertubuhan-pertubuhan Islam, penerbitan buku-buku yang membincangkan tentang pengharaman sistem riba dan sebagainya, di kebanyakan tempat (terutamanya di negara-negara Islam).
           
           Suatu khabar gembira yang lebih bernilai ialah, kebangkitan Islam dari sudut ilmiah, iaitu, perbincangan mengenai "Seruan untuk Kembali kepada Sunnah Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam)". Begitu banyak sekali buku-buku yang diterbitkan mengenai Hadis-hadis Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam) yang terkenal mahupun yang tidak terkenal.

          Kebanyakan daripada buku-buku mengenai Hadis-hadis Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam) tersebut, tidak disyarah dan jelaskan oleh ulama'-ulama' ahli fiqh, secara terperinci mengenainya. Oleh yang demikian, hal ini menyebabkan sebahagian pembaca yang tidak mempunyai bekalan ilmu fiqh yang mantap, ataupun yang tidak belajar dari ulama'-ulama' terlebih dahulu, akan terkeliru dan seterusnya. pemahamannya akan bercanggah dengan maksud sebenar Hadis-hadis yang dibacanya. Kemungkinan besar juga, si pembaca tersebut akan terdorong untuk mengamalkan seluruh Hadis-hadis yang dinilai sebagai Hadis-hadis Sahih oleh segolongan ahli Hadis (tanpa menilai adakah hadis-hadis itu digunakan atau tidak oleh ulama'-ulama').

         Kemungkinan juga, si pembaca yang cetek ilmu tersebut, akan berkata kepada dirinya: "kami beramal dengan hadis ini untuk satu ketika, dan satu ketika yang lain, ditinggalkan hadis ini (tidak beramal dengan Hadis tersebut)". Si pembaca yang kurang ilmunya itu tidak bertanya terlebih dahulu kepada ulama'-ulama' yang khusus dalam bidang syariah yang masih hidup, mahupun membaca ulasan-ulasan pada buku-buku karangan ulama'-ulama' Muktabar yang telah tiada, mengenai Hadis-hadis yang dibacanya. seperti Fathul Bari karangan Imam Ibn Hajar Al-Asqalani, Syar Sahih Muslim oleh Imam An-Nawawi, dan sebagainya.

         Dia juga tidak mempelajari tentang ilmu Al-Arjah (Hadis-hadis yang paling kuat untuk digunakan dalam berhujah pada masalah syariat), tidak mengetahui yang mana hadis yang diriwayatkan terlebih dahulu dan yang mana yang diriwayatkan kemudian, yang mana hadis yang khusus dan yang mana hadis yang diriwayatkan khas untuk keadaaan tertentu, yang mana ilmu-ilmu tersebut amat penting dalam memahami dan mengkaji maksud sesuatu hadis.
                                                                      
            Kadang-kadang pembaca buku-buku Hadis, yang kurang ilmunya, apabila telah jelas sesuatu hadis, dia menyangka bahawa Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam) kadang-kadang terlupa apa yang pernah Baginda (sallallahu'alaihi wasallam) pernah sabdakan, kemudian menukar perkataan Baginda (sallallahu'alaihi wasallam) yang berlainan dengan kata-kata Baginda  (sallallahu'alaihi wasallam) sebelum itu, walaupun pada hakikatnya, Baginda (sallallahu'alaihi wasallam) seorang yang Ma'shum (tidak berdosa dan melakukan kesalahan). Allah s.w.t. juga pernah berfirman: (( Kami akan bacakan (beri wahyu) kepadaMu (Hai Muhammad), maka janganlah Kamu melupainya )).

                                                            
         Maka, para penuntut ilmu yang ingin mengamalkan sunnah-sunnah Rasulullah s.a.w. melalui hadis-hadis Baginda s.a.w. yang diriwatkan oleh para ulama' hadis dalam kitab-kitabnya, perlu juga merujuk kepada kitab-kitab fiqh yang dikarang oleh ulama'-ulama' fiqh. Ini kerana, didalamnya terdapat adunan adunan daripada hadis-hadis Rasulullah s.a.w. dalam bentuk praktikal yang dikenali sebagai ilmu fiqh.

            Seperti yang dapat dilihat dari kaca mata sejarah, sebahagian ulama'-ulama' hadis yang agung di zaman salaf yang soleh juga, amat menghormati dan memuliakan ulama'-ulama' Fiqh yang mahir dalam bidang Hadis juga, yang Allah pelihara mereka daripada bercanggah dengan Hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Bahkan, mereka turut mempelajari makna-makna hadis yang mereka riwayatkan daripada ulama-ulama fiqh yang muktabar. 
                                                                       
            Abdullah bin Mubarak (seorang ulama' Hadis dari Khurasan) r.h.l. pernah berkata: "Jika Allah s.w.t. tidak membantu saya dengan perantaraan Abu Hanifah dan Sufian (dua ulama' Fiqh), nescaya aku sama sahaja seperti orang awam (yang tidak memahami Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) ".[1]

            Sufian bin 'Uyainah r.h.l. pernah berkata: "Orang yang pertama membantu saya dalam memahami hadis dan menjadikan saya seorang ahli Hadis ialah Imam Abu Hanifah (seorang ulama' fiqh)"[2]  

            Abdulla bin Wahab r.h.l. (seorang ahli hadis juga sahabat Imam Malik r.h.l.) juga pernah berkata: "saya telah berjumpa dengan tiga ratus enam puluh ulama', (bagi saya) tanpa Imam Malik dan Imam Laith r.h.l (ulama'-ulama' Fiqh), nescaya saya akan sesat dalam ilmu."[3]

            Beliau juga diriwayatkan pernah berkata: "Kami mengikuti empat orang ini dalam ilmu, duanya di Mesir dan dua orang lagi di Madinah. Imam Al-Laith bin Sa'ad dan Amr bin Al-Harith di Mesir, dan dua orang lagi di Madinah ialah Imam Malik dan Al-Majishun. Jika tidak kerana mereka, nescaya kami akan sesat."

            Imam Al-Kauthari r.h.l. berkata di dalam kitab Al-Intiqa' karangan Ibn Abdil Bar, telah berkata Abdullah bin Wahab (dari sanad Ibn 'Asakir): "Jika tiada Imam Malik bin Anas dan Imam Al-Laith Sa'ad, nescaya saya akan binasa. Dulu, saya menyangka setiap yang datang dari Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam) (As-Sunnah dan Al-Hadis), perlu diamalkan".

           Maksud kesesatan dalam perkataan beliau ialah: percanggahan dengan maksud Hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Kemudian, Imam Al-Kauthari mengulas: "Kesesatan yang dimaksudkan sepertimana berlaku pada kebanyakan manusia yang jauh dari ilmu Fiqh dan tidak dapat membezakan tentang hadis yang diamalkan dan selainnya. [4]

            Al-Qodhi 'Iyadh r.h.l. meriwayatkan, Ibn Wahab r.h.l. juga pernah berkata: "Andai Allah s.w.t. tidak menyelamatkan saya dari kesesatan melalui Imam Malik dan Al-Laith r.h.l., nescaya saya akan sesat." Beliau ditanya: "Mengapa begitu?" Beliau menjawab: " Saya telah menghafal banyak hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam), sehingga timbul pelbagai persoalan. Kemudian, saya pergi ke Imam Malik dan Al-Laith untuk bertanya mengenainya, maka mereka berkata kepada saya: "Hadis ini kamu amalkan dan ambil ia sebagai hujah, dan hadis yang ini pula kamu tinggalkan (tidak perlu menggunakannya)."[5]  

            Sufian bin 'Uyainah pernah berkata: "Hadis itu menyesatkan kecuali kepada Al-Fuqoha' (ulama' ahli Fiqh). Kadangkala, suatu hadis itu tidak boleh dipegang secara zahir sahaja, malah ada ta'wilannya. Kadangkala, sesuatu Hadis itu pula ada maksud yang tersembunyi. Ada juga Hadis yang perlu ditinggalkan dengan sebab-sebab tertentu, yang mana, semua itu hanya diketahui oleh orang yang mahir dan berilmu luas khususnya dalam Fiqh (kefahaman)."[6]

            Ibn Rusyd r.h.l. pernah ditanya tentang kata-kata: "Hadis itu menyesatkan kecuali bagi ahli Fiqh". Beliau ditanya lagi: "Bukankah seorang ahli Fiqh itu juga perlu tahu mengenai Hadis terlebih dahulu.?!" Beliau menjawab: "Kata-kata itu bukanlah dari Rasulullah (sallallahu'alaihi wasallam), ia merupakan kata-kata Ibn 'Uyainah r.h.l. dan ahli-ahli Fiqh yang lain. Maksud kata-kata itu tepat, kerana kadangkala, sesuatu hadis itu diriwayatkan dalam sesuatu keadaaan yang khusus, tetapi maknanya umum, begitu juga sebaliknya. Ada juga Hadis yang Nasikh  dan Hadis yang Mansukh (tidak digunakan lagi). Kadangkala pula, ada hadis yang secara zahirnya seolah-olah menyerupakan Allah dengan makhluk (Tasybih). Ada juga hadis yang maksudnya hanya diketahui oleh para ahli Fiqh sahaja. Barangsiapa yang hanya mengumpul hadis tetapi tidak memahaminya tidak dapat membezakan antara hadis yang maksudnya umum atau khusus. Oleh kerana itu, ahli Fiqh (Faqih) itu bukanlah orang yang sekadar mengetahui tentang Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) sahaja, bahkan memahaminya secara mendalam. Jika seseorang itu tdak mampu memahami secara mendalam dalam masalah hadis mahupun Fiqh, maka dia bukanlah seorang ahli Fiqh (Faqih), walaupun dia mengumpul banyak Hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Inilah sebenarnya maksud kata-kata Sufian bin 'Uyainah.[7]

               Abdullah bin Mubarak r.h.l. pernah berkata mengenai fiqh Imam Abu Hanifah r.h.l.: "Jangan kamu katakan fiqh ini (mazhab Imam Abu Hanifah) merupakan pendapat beliau, tetapi katakanlah, ia (mazhab Abu Hanifah) merupakan tafsiran bagi hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam).[8]

            Sebahagian orang, hanya membaca matan-matan hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) sahaja, tanpa menghiraukan ulasan-ulasan ahli-ahli Fiqh yang bergiat secara khusus dalam mengkaji hadis-hadis tersebut, mengenai hadis-hadis tersebut.. Mereka berfatwa dan mengemukakan hadis-hadis yang diragui kesahihannya disisi Imam-imam terdahulu yang 'Alim, dalam masalah hukum dan percakapan mereka.

            Kadangkala, mereka menolak ulasan-ulasan ulama'-ulama' yang 'Alim, mengenai kedudukan hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam), dan bersangka buruk pula kepada ulama'-ulama' tersebut. Ada dikalangan mereka pula, yang melemparkan tohmahan yang buruk keatas ulama'-ulama' muktabar tersebut serta pengikut-pengikut mereka dan mengatakan bahawa mereka (ulama'-ulama' terdahulu dan pengikut-pengikutnya) jahil tentang hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam). Amat buruklah tohmahan mereka itu!
           
            Imam Ahmad bin Hanbal r.h.l. pernah bekata (seperti yang diriwayatkan oleh anaknya Soleh r.h.l.): "seseorang yang ingin memberi fatwa perlulah terlebih dahulu memahami keseluruhan Al-Qur'an, mengetahui sanad-sanad hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) dan mengetahui Sunnah-sunnah.[9]

            Abdullah bin Ahmad bin Hanbal r.h.l. berkata, "saya pernah bertanya kepada ayah saya (Ahmad bin Hanbal r.h.l.), tentang seorang pemuda yang memiliki banyak kitab-kitab mengenai hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam) dan himpunan kata-kata paa sahabat r.a. dan para tabi'in r.h.l., tetapi tidak mengetahui tentang kedudukan sesuatu hadis tersebut samada sahih atau sebaliknya, adakah dia boleh beramal sesuka hatinya? Ataupun, adakah dia layak memilih hadis mana yang dia mahu gunakan, dan memberi fatwa atau beramal dengannya? Imam Ahmad bin Hanbal menjawab: "Tidak! Sehinggalah dia bertanya kepada ulama' mengenai hadis mana yang boleh digunakan. Kemudian, barulah dia boleh beramal dengannya (hadis yang disahkan kesahihannya oleh ulama' yang ditanya mengenainya)."[10] 

            Imam As-Syafi'e r.h.l. pernah menegaskan: "Seseorang tidak boleh memberi fatwa dalam agama Allah kecuali dia mengetahui keseluruhan Al-Qur'an dan ilmu-ilmunya seperti nasikh dan mansukh, ayat muhkam dan mutasyabih, ta'wil dan tanzil, ayat makkiyah atau madaniyyah. Dia juga perlu mengetahui tentang hadis-hadis Nabi (sallallahu'alaihi wasallam), serta ilmu-limunya ('ulumul hadis) seperti nasikh dan mansukh, dan lain-lain. Setelah itu, dia juga pelu menguasai Bahasa Arab, Sya'ir-sya'ir Arab, dan sastea-sasteranya (kerana Al-Qur'an dan Hadis dalam Bahasa Arab dan mengandungi kesasteraannya. Setelah itu, dia juga pelu mengetahui perbezaan Bahasa Arab di kalagan setiap ahli masyarakat Arab. Jika dia sudah menguasai keseluruhan pekara-perkara tersebut, barulah dia layak memberi fatwa mengenai halal dan haram. Jika tidak, dia tidak layak untuk memberi fatwa."[11]

            Khalaf bin Umar r.h.l. telah berkata: "Saya mendengar Malik bin Anas (r.h.l.) berkata: "Saya tidak pernah duduk untuk memberi fatwa sehinggalah saya bertanya terlebih dahulu kepada orang yang lebih 'alim dari saya tentang kelayakan saya untuk berfatwa. Saya pernah bertanya terlebih dahulu kepada Rabi'ah (r.h.l.) dan Yahya bin Sa'id, sedangkan mereka menyuruh saya untuk berfatwa. Maka, saya menegaskan: "Wahai Aba Adullah, adakah tidak mengapa untuk saya berfatwa sedangkan kamu ada di sini?" Beliau menjawab: "Saya tidak layak berfatwa. Tidak layak bagi seseorang itu, menganggap dirinya layak untuk sesuatu perkara, sehinggalah dia bertanya kepada seseorang yang lebih mengetahui darinya."[12]

            Mka, jelaslah berdasarkan kata-kata ulama'-ulama' salaf yang dinukilkan oleh Sheikh Habib Al-Kairanawi r.h.l., telah menolak pendapat orang-orang mewajibkan setiap orang untuk berijtihad. Kemungkinan, mereka tersalah faham terhadap perkataan-perkataan sesetengah ulama' dalam karangan-karangan mereka, padahal kefahaman yang salah itu, amat bercanggah dengan kefahaman jumhur ulama'. Kemudian, golongan tersebut memperjuangkan kefahaman yang salah ini, dan mengajak seluruh umat Islam mengikuti pendapat tersebut (walaupun pada hakikatnya amat bercanggah dengan kefahaman yang sebanar). Akhirnya, tejadilah kekacauan dan pertelingkahan dikalangan umat Islam, disebabkan oleh perjuangan terhadap fahaman yang salah ini (yang mewajibkan setiap orang berijtihad). Na'uzubillah min zalik.

            Salah faham ini sebenarnya membawa kepada pepecahan dikalangan penuntut-penuntut ilmu dan akhirnya membawa kepada permusuhan dan saling jauh menjauhi antara satu sama lain. Hal ini akan menyebabkan terputusnya tali persaudaraan yang Allah s.w.t. menyuruh umat Islam menyambungkannya (tali persaudaraan Islam).

        Kita perlulah mempelajari ilmu dari ahli ilmu yang muktabar dari sudut ilmunya, bukan sekadar membaca buku-buku imiah tanpa dibimbingi oleh seseorang guru yang alim. Ini kerana, barangsiapa yang tiada guru yang membimbingnya dalam mendalami samudera ilmu Islam dalam kitab-kitab, maka syaitanlah yang akan menjadi pembimbingnya. Bahkan, para ulama' muktabar turut menyeru agar ilmu agama dipelajari oleh kaedah isnad, di mana kefahaman tentang agama Islam diambil dari para ulama' yang jelas sanad ilmunya bersambung kepada Rasulullah s.a.w.

        Nas-nas di dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah bagaikan bahan mentah bagi Syariat Islam. Ia perlulah diadun dengan acuan-acuan ilmu-ilmu Islam yang lain seperti ilmu Asbabun Nuzul, Asbabul wurud, ilmu rijal, ulumul Qur'an, ulumul Hadis, usul Fiqh dan sebagainya. Sheikhuna As-Syarif, Al-Habib Yusuf Al-Hasani h.f.l. pernah menyebut bahawa "sesiapa yang tidak menguasai ilmu-ilmu tersebut, namun cuba mengamalkan hadis-hadis yang dibacanya tanpa bimbingan guru-guru yang alim, bagaikan mengambil daging mentah dari peti sejuk dan memakannya begitu sahaja. Bukankah ianya memudaratkan diri sendiri"

        
                                                                      
 Jika kita dikalangan orang awam, bukan ahli ilmu, maka bertanyalah kepada orang yang 'alim, dan janganlah beijtihad sendiri terhadap nash-nash. Allah telah berfirman:


            (( فسئلوا أهل الذكر ان كنتم لا تعلمون))

         
Maksudnya: Bertanyalah kepada yang mengetahui jika kamu tidak mengetahui (akan sesuatu perkara).

Wallahu'alam







Monday, 18 July 2011

KERINDUAN MEMANGGIL LAGI...

    Kelebihan Ramadan
  • Daripada Anas (r.a), Katanya: Bersabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba apabila melihat ia sehari bulan Ramadan lantas dia memuji Allah  ( kerana kedatangan bulan rahmat dengan kelebihan dan keistimewaanya) kemudian dibacanya Al-Fatihah tujuh kali, melainkan diafiatkan Allah daripada sakit matanya pada bulan ini.
  • Kelebihan bulan Ramadan dan keagungannya dengan adanya malam Lailatul Qadar yang dirahsiakan, sehingga mendapat keampunan dan pahala serta darjat dan darjah tertinggi bagi orang yang berjaya mendapatkan malam Lailatul Qadar dengan dipenuhi amal ibadah dan bertaqwa kepada Allah, disamping sembahyangnya yang sunat , istiqfar, tasbih dan berzikir sepenuhnya.
  • Berkata Saidina Ali, Nabi (s.a.w) telah bersabda apabila engkau melihat sehari bulan maka bacalah olehmu "AllahuAkbar" 3 kali, kemudian bacalah :
      (Segala kepujian bagi Allah yang telah menjadikan aku dan telah menjadikan engkau, dan telah menentukan bagi engkau pangkat-pangkat (darjah) dan telah menjadikan engkau tanda (kekuasaan) bagi sekalian alam) nescaya bermegah Allah akan Dia dengan malaikat dan firmanNya: Hai malaikat! saksikanlah kamu, bahwa Aku telah merdekakan daripada api neraka, atau dibacakan

(Ya Allah, zahirlah Ramadan atas kami dengan keamanan dan keimanan dan dengan keselamatan dan keIslaman, Tuhanku dan Tuhan engkau Allah.)
  • Bersabda Nabi (s.a.w) : Bahawa syurga berlenggang-lenggang ia dan berhias dari setahun ke setahun kerana masuknya bulan Ramadan. Pada awal malam bulan Ramadan bertiup angin di bawah Arasy bergeraklah daun kayu lemah-longlainya di dalam syurga. Terdengarlah desiran daun-daun kayu, hembusan sang bayu syurga yang teramat indahnya.Seni rentak lagunya menawan seluruh perasaan nurani. Maka berhiaslah bidadari sekaliannya lalu berdirilah di atas puncak mercu syurga itu. Lantas bersuaralah bidadari : Adakah orang yang hendak meminang kami kepada Allah, kata bidadari pula: Apakah malam ini namanya? jawab Malek Ridwan (malaikat), Hai bidadari yang cantik manis, inilah malam awal Ramadhan, Lalu Allah berfirman: Hai Ramadan bukalah pintu syurga Bab AlJanan untuk orang-orang yang berpuasa daripada umat Muhammad (s.a.w). Hai Malek Ridwan tutuplah pintu neraka Al-Jahim daripada umat Muhammad (s.a.w), hai Jibrail belenggukan syaitan, lontarkannya ke dalam lautan supaya tidak membinasakan umat Muhammad akan puasanya. Maka berfirman Allah pada tiap-tiap malam Ramadan tiga kali : Adakah orang yang meminta ampun? Akan Aku ampunkan
                                                     
  • Pada malam Lailatul Qadar menyuruh Allah Ta'ala akan Jibrail Alaihisalam turun ke bumi, lalu turunlah Jibrail ke dalam perhimpunan malaikat ke bumi bersamanya bendera hijau lalu dipacakkan ke atas Kaabah, baginya 600 sayapnya , setengahnya tiada dibuka keduanya, melainkan pada malam Lailatul Qadar baharulah dibukakan keduanya, hingga sampai dari timur ke barat ( Musyriq Ke Maghrib ). Untuk menyelamatkan umat Muhammad, Lalu memberi salam kepada tiap orang yang berjaga pada malam Lailatul Qadar beribadah kerana mencari keredaan Allah, dan orang-orang yang duduk beribadah, orang yang sembahyang dan berzikir dan berjabat tangan sesama mereka mukmin dan mengucap amin doa orang-orang mukmin hingga terbit fajar subuh....... berkata para malaikat kepada Jibrail , apakah Allah berikan pada hajat orang mukmin dari umat Muhammad (s.a.w)  pada bulan Ramadan ini? Berkata Jibrail bahawasanya Allah menilik kepada  umat Muhammad yang berpuasa dan beribadah padanya dan dimaafkan mereka, diampunkan dosa-dosa mereka, melainkan empat orang yang tiada diampunkan dosanya: yaitu orang yang kekal minum arak, orang yang derhakakan ibubapanya, orang yang memutuskan sillaturrahim dan orang yang tidak bercakap dengan saudaranya lebih dari 3 hari.
  • Apabila pada malam akhir Ramadan dinamakan malam persalinan. Pada malam hari raya Aidilfitri didatangkan Allah malaikat kepada tiap-tiap negeri turunlah mereka ke bumi, berdiri pada permukaan jalan menyeru dengan suara yang kuat, semua mendengarnya kecuali jin dan manusia berkata mereka, hai umat Muhammad keluarlah kamu menghadap tuhan yang amat mulia (sembahyang raya di pagi raya) yang memberi pemberian yang berpanjangan dan mengampun akan dosa-dosa yang besar. Apabila tibalah umat Muhammad ke tempat sembahyang, firman Allah kepada maliakat : Hai malaikatKu, apakah balasan orang yang mengambil upah apabila selesai kerjanya ? Jawab malaikat , hai Tuhan kami, sempurnakanlah upahnya! Firman Allah bahawa Aku saksikan kamu hai malaikatku, telah aku jadikan pahala mereka dari puasa mereka pada bulan Ramadan mereka mendirikan sembahyang, ialah keredaanKu dan keampunanKu kepada mereka! Maka firmannya lagi : Hai segala hambaku, pohonlah kamu kepada ku, maka demi ketinggianku dan kebesaranku, tiada memohon kepadaku hari ini akak sesuatu bagi agamamu dan duniamu, melainkan Aku kurniakan kepadamu! (Al-Hadith).
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Diberi kepada umatku lima perkara yang belum pernah diberi kepada umat-umat dahulu sebelumnya :
    • a) Bau mulut orang berpuasa lebih harum daripada kasturi di sisi Allah
    • b) Segala perbelanjaan dan derita lapar selama puasanya adalah syurga balasannya.
    • c) Diampunkan dosa-dosa mereka pada malam Lailatul Qadar.
    • d) Amalan yang dilakukan pada bulan Ramadan digandakan kepada 10 hingga 700 kali ganda, melainkan puasa maka ianya bagiKu, Aku balas kepadanya yang berkuasa menahan syahwatnya, makan minumnnya kerana Aku.
    • e) Dan mereka dikurniakan nikmat kepada mereka keseronokkan ketika berbuka dan ketika menemui tuhan di akhirat.(Al-Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Menunaikan yang sunat diberi balasan pahala fardhu, dan amal fardhu diberi balasan 70 kali ganda. Bulan puasa adalah bulan sabar (sabar dalam berbuat taat kepadaNya.), dan sabar itu adalah syurga balasannya bulan ini dilebihkan rezeki kepada hambanya orang mukmin, diampunkan baginya dosa-dosa. Barang siapa memberi makan kepada orang berpuasa pahalanya seperti memerdekakan hamba dan diampunkan dosanya, berkata sahabat : Bagaimana kami tak sanggup memberi makan orang yang berpuasa (berbuka puasa) ya Rasullullah - Allah memberi pahala ini kepada orang yang memberi seteguk susu atau sebiji kurma atau segelas air, barang siapa kenyangkan orang berpuasa diampunkan Tuhan dosanya, diminumkan Tuhan dari kolam Hudh sejenis minuman yang tiada dahaga lagi kemudiannya hingga masuk ia ke syurga dan pahalanya seperti pahala orang berpuasa. (Al-Hadith)
  • Puasa menurut segala yang disuruh dan menjauh segala pantang larangannya, diampunkan dosanya, dan bertasbih, bertahlil dibinakan rumah indah dalam syurga.
  • Barang siapa hadir ke dalam majlis zikir pada bulan Ramadan, ditulis tiap langkahnya ibadat setahun, dan pada hari Qiamat bersamaku di bawah Arasy. Siapa tetap berjemaah dalam bulan puasa didirikan kota bercahaya indah, cemerlangnya , dan yang berbakti kepada ibubapanya Allah memandang rahmat kepadanya, dan isteri yang berbuat sesuatu mencari keredaan suaminya, maka pahala yang besar Allah kurniakan kepadanya , seperti Siti Maryam dan siapa yang menyampaikan hajat orang mukmin, Allah menunaikan seribu hajatnya, dan siapa bersedekah kepada fakir miskin (yang ada anak isteri) tiap langkah dikurniakan kepadanya seribu kebajikan, dihapuskan seribu kejahatan dan diangkatkan seribu darjat baginya. (Al-Hadith).  Orang yang sembahyang bulan Ramadan tiap sekali sujud, dikurniakan kepadanya 1700 kebajikan, dan dibinakan rumah didalam syurga daripada permata bagi orang yang berpuasa dan beribadat, 75000 malaikat meminta ampun baginya dari pagi hingga tenggelam matahari, dan dibina sebuah mahligai baginya . (Al-Hadith)
  • Pada hari Qiamat, Allah memerintah Malek Ridwan supaya dikeluarkan orang-orang berpuasa daripada kuburnya dengan keadaan lapar dan dahaga, lalu disuruh Malek Ridwan berikan segala keinginan mereka dari segala macam makanan dan minuman syurga. Maka Malek Ridwan memerintah kepada anak-anak membawa talam-talam makanan , minuman dan buah-buahan. Sebagai balasan berlapar di bulan Ramadan. (A-Hadith)
  • Orang mukmin yang tidur dalam bulan puasa kerana puasa Ramadan, dia membalikkan badannya sambil meyebut Allah! maka kata malaikat kepadanya : Rahimakallah (Allah Mencucuri Rahmat kepada kamu.)
    • - Apabila  dia berdiri maka berdoalah hamparannya :  (Wahai Tuhanku, kurniakanlah kepadanya hamparan permaidani  tebal kepadanya di dalam syurga)
    • - Apabila memakai pakaian , berdoalah pakaian (Wahai Tuhanku, kurniakan kepadanya pakaian syurga)
    • - Apabila memakai kasut, berdoalah kasut  (Wahai Tuhanku, tetapkanlah atas titian Siratul Mustaqim!)
    • - Apabila memegang timba berdoalah pula timba : (Wahai Tuhanku kurniakan kepadanya gelas syurga!)
    • - Apabila mengambil air sembahyang , berdoalah air itu : (Wahai Tuhanku sucikannya daripada segala dosa dan kesalahan!)
    • - Apabila berdiri sembahyang , berdoalah rumahnya:  ( Wahai Tuhanku cahayakanlah kuburnya dan luaskanlah , lapangkanlah kuburnya!)
    • Serta menilik Allah kepadanya , maksudnya : HambaKu berdoa dan Aku menerima! (Al-Hadith)
  • Malaikat yang banyak muka bersujud kepada Allah pada hari Qiamat, satu muka sujud , satu muka melihat syurga, satu muka melihat neraka, satu muka melihat Arasy , lalu berkata malaikat itu : Wahai Tuhanku , ampunlah umat Muhammad, kasihanilah mereka! janganlah disiksa orang yang berpuasa Ramadan dari umat Muhammad! (Al-Hadith)
    • Keredaan Allah (bagi orang yang taat)
    • Keampuan Allah (bagi orang yang maksiat)
    • Jaminan Allah (bagi orang yang taat)
    • Kejinakan Allah (bagi orang yang tawakkal)
    • Anugerah Allah (bagi orang yang benar).
      • Ramadan, Ramada, ertinya : membakar - yakni menghapuskan dosa dosa orang yang berpuasa dan beribadat bulan Ramadan.
      • Ramadan ertinya bulan mendapatkan keredhaan Allah dan keampunan bagi hambaNya. Orang yang mendapat keredhaan dan keampunan Allah bererti memberi jaminan (kerana ibadatnya pada bulan mulia dengan penuh taat) mendapat syurga anugerah Allah bagi hambaNya yang benar benar melakukan ibadat kerana Nya pada bulan Ramadan termulia ini dengan ganjaran pahala sehingga seribu kali ganda dan keampunan yang banyak sekali, teristimewa pada malam Lailatul Qadar.
    • "Bahawa di dalam syurga terdapat bilik bilik, dilihat dari luar nampak di dalamnya dan dilihat dari dalam kelihatan di luarnya, berkata sahabat : untuk siapakah ya Rasulullah? Lantas Baginda menjawab : Ialah bagi orang yang baik percakapannya, bagi orang yang memberi makan makanan, bagi orang yang sentiasa berpuasa, bagi orang yang sembahyang di tengah malam sedang manusia banyak tidur." (Al Hadith)
    • "Semulia mulia sedeqah ialah sedeqah pada bulan Ramadhan." (Al Hadith"Puasa itu perisai dan sedeqah itu memadam kesalahan dosa sepertimana air memadamkan api." (Al Hadith)"Siapa memberi makan ( berbuka puasa) kepada orang puasa makan baginya seumpama balasan pahala orang yang berpuasa dengan tidak kurang sedikitpun ." (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Tiada daripada seorang hamba berpuasa Ramadan, diam tiada berkata yang sia sia dan daripada yang haram dan yang makruh, dan sentiasa menyebut Allah (berzikrullah), menghalalkan yang dihalalkan Allah, mengharamkan akan yang diharamkan Allah, tiada mengerjakan kejahatan, melainkan sehingga berakhir Ramadan, telah diampunkan baginya segala dosanya, dan tiap tasbih, tiap tahlil, dibinakan sebuah rumah yang terindah di dalam syurga daripada permata zamrud, di dalamnya daripada yaqut merah indah, di dalam rangka permata itu (yaqut) terdapat sebuah khemah, di dalamnya terdapat bidadari ( hurul ain isteri syurga). Terhias dengan permata bercahaya indah yang menerangkan bumi seluruhnya.(Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawasanya bagi Allah beberapa kejadianNya, dijadikan mereka supaya menyampaikan segala hajat orang dan supaya orang meminta tolong kepada Nya, pada menyempurnakan segala hajat yang diperlukan, mereka itulah orang yang aman daripada siksa Allah (Riwayat At Tibrani) (Al-Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Bahawa pintu langit dan pintu syurga dibuka pada awal Ramadan hingga akhir malam Ramadan, tiap orang yang bersembahyang pada malamnya dituliskan baginya tiap satu sujud 1700 kebajikan, dibina rumah baginya di dalam  syurga daripada yaqut merah indah, baginya 70 pintu daripada emas yang bertatah yaqut permata yang merah, orang yang berpuasa pada awal Ramadan diampunkan segala dosanya  hingga ke akhir bulan Ramadan, dibinakan baginya tiap tiap hari sebuah mahligai di dalam syurga, mempunya 1000 pintu daripa emas, dan meminta ampun baginya 70 000 malaikat  dari pagi  hingga tenggelam matahari (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Kelebihan hari Jumaat pada bulan Ramadan atas segala hari yang lainnya seperti kelebihan Ramadan atas segala bulan (Al Hadith)
  • Barangsiapa mengerjakan ibadat pada bulan Ramadan dengan keimanannya dan ikhlasnya kerana Allah, maka di ampunkan segala dosanya yang telah lalu (Al Hadith)
  • Sabda Nabi (s.a.w) : Tidur orang yang berpuasa itu adalah ibadat, dan nafasnya itu adalah tasbih, doanya itu mustajab, dosanya diampunkan Allah, dan amal ibadatnya dilipatgandakan . (Al Hadith)
  • Apabila berakhir bulan Ramadan, menangis wali-wali Allah kerana terpisahnya bulan yang paling mulia yang digandakan ibadat berlipatkali ganda daripada bulan bulan yang lainnya, bulan Allah mudah menerima ampun taubat hambaNya, bulan yang banyak sekali diturun rahmat ke alam, bulan yang terdapat padanya malam Lailatul Qadar, suatu rahmat dan rahsia yang dikurniakan kepada hamba hamba Nya yang  salihin, yang tidak terdapat pada bulan bulan yang lainnya. Mereka menangis kerana belum tentu akan dapat menemui bulan termulia ini pada tahun tahun hadapan, kiranya dipanjangkan umur.
  • Apabila berakhirlah malam bulan Ramadan, menangislah tujuh petala langit dan tujuh petala bumi, dan segala malaikat, jerana berlalu Ramadan berlalulah kelebihan, sebab musibah bagi umatku, dan duduk segala malaikat bagi musibah, orang bertanya : Ya Rasullullah, apa itu musibah ? Jawab rasullullah (s.a.w), Kerana segala doa padaNya itu mustajab, sedakah makbul, segala kebajikan digandakan dan siksa kubur diangkat, maka apakah musibah yang terlebih besar daripada ini bagi umatku?! (Al-Hadith)
  • Malam Lailatul Qadar adalah malam rahsia, yang turunnya padanya malaikat Jibrail dan beberapa malaikat dengan perintah Allah. Orang yang berjaga dengan malam ibadatnya untuk mendapatkan malam Lailatul Qadar yang terahsia itu yang tidak diketahui oleh manusia, hanya orang-orang solihin yang hampir, orang berusaha mendapatkan malam mulia itu dengan berjaga malam pada sepuloh malam Ramadan yang terakhir maka diampunkan tuhan segala dosanya. Di pahalakannya dengan banyak , dirahmatkannya dengan limpah kurnia. Dan orang-orang solihin yang dikurniakan Allah mendapat malam Lailatul Qadar itu satu keberuntungan kebahagiaan bagi akhirat, mendapat keampunan dan rahmat terbesar, mendapat pimpinan Allah dalam hatinya, mendapat keredaan Allah dalam hidupnya dunia dan akhirat.
  • Malam Aidilfitri, malam raya, disunatkan kepada kita berjaga malam, beribadah, bertakbir "AllahuAkbar" sepanjang malamnya. Akan mendapat keampunan yang banyak, pahala yang besar, rahmat Allah tercurah kepadanya. Siapa yang menghidupkan dua malam raya (AidilFitri & AidilAdha) dengan ibadatnya dan takbirnya , tiada dimatikan hatinya pada hari yang dimatikan segala hati. (Al-Hadith).